Saturday, March 5, 2022

Basyar, Bani Adam, An-Nas, Insan dalam Al-Qur'an

Di dalam Al-Qur'an, manusia disebutkan dalam empat kata yang berbeda yakni Basyar, Bani Adam, An-Nas,dan Insan. Secara khusus keempat kata ini memiliki makna berbeda. Perbedaan ini terkait dengan masing-masing aspek yang kaitannya adalah dengan manusia itu sendiri.  

Basyar -> Biologis, morfologi, fisiologi

Bani Adam -> Biologi, hereditas

An Nas -> Sosial, antropologi

Insan -> Spritual

 Dari situ, kita sadari bahwa Al-Qur'an merupakan petunjuk dan pedoman yang memiliki bahasa yang tinggi, detail dan mendalam. Tidak seperti yang dikatakan oleh Arab jahiliyyah tentang Al-Qur'an  

Saturday, January 15, 2022

ZAKAT PROFESI, WAJIB ATAU TIDAK ?

 0322. ZAKAT PROFESI, WAJIB ATAU TIDAK ?


Istilah Zakat Profesi belum dikenal di zaman Rosulullah SAW bahkan hingga masa berikutnya selama ratusan tahun. Bahkan kitab-kitab Fiqih yang menjadi rujukan umat ini pun tidak mencantumkan pembahasan bab zakat profesi dadalamnya.


Harus diingat bahwa meski di zaman Rosulullah SAW telah ada beragam profesi, namun kondisinya berbeda dengan zaman sekarang dari segi penghasilan. Dizaman itu penghasilan yang cukup besar dan dapat membuat seseorang menjadi kaya berbeda dengan zaman sekarang. Diantaranya adalah berdagang, bertani, dan berternak. 


Sebaliknya, di zaman sekarang ini berdagang tidak otomatis membuat pelakunya menjadi kaya, sebagaimana juga bertani dan berternak. Nahkan umumnya petani dan peternak di negeri kita ini termasuk kelompok orang miskin yang hidupnya masih kekurangan.


Sebaliknya, profesi-profesi tertentu yang dahulu sudah ada, tapi dari sisi pendapatan saat itu tidaklah merupakan kerja yang mendatangkan materi besar. Di zaman sekarang ini justru profesi-profesi inilah yang mendatangkan sejumlah besar harta dalam waktu yang singkat. Seperti Dokter Spesialis, Arsitek, Komputer Programer, Pengacara, dan sebagainya. Nilainya bisa ratusan kali lipat dari petani dan peternak miskin di desa-desa.


Perubahan Sosial inilah yang mendasari ijtihad para ulama hari ini untuk melihat kembali cara pandang kita dalam menentukan : siapakah orang kaya dan siapakah orang miskin ? intinya zakat itu adalah mengumpulkan harta orang kaya untuk diberikan pada orang miskin. Dizaman dahulu, orang kaya identik dengan Pedagang, Petani, dan Peternak. 


Tapi di zaman sekarang ini, orang kaya adalah para profesional yang bergaji besar. Zaman berubah namun prinsip zakat tidak berubah. Yang berubah adalah realitas di masyarakat. Tapi intinya orang kaya menyisihkan uangnya untuk orang miskin. Dan itu adalah intisari Zakat.


Dengan demikian, zakat profesi merupakan ijtihad pada ulama di masa kini yang nampaknya berangkat dari ijtihad yang cukup memiliki alasan dan dasar yang juga cukup kuat. Akan tetapi tidak semua ulama sepakat dengan hal tersebut. Bagaimana sesungguhnya hukum zakat profesi ? Wajibkah penghasilan setiap profesi dikeluarkan zakatnya ? Adakah dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menjadi dasarnya ? Berapakah Nisab dan Prosentasinya ? Bagaimana cara pembayarannya ?


Menanggapi persoalan zakat profesi ini, pendapat ulama terbagi menjadi dua : 


Pendapat & Dalil Penentang Zakat Profesi


Mereka mendasarkan pandangan bahwa masalah zakat sepenuhnya masalah 'ubudiyah. Sehingga segala macam bentuk aturan dan ketentuannya hanya boleh dilakukan kalau ada petunjuk yang jelas dan tegas atau contoh langsung dari Rosulullah SAW. 


Bila tidak ada, maka tidak perlu membuat-buat aturan baru.

Di zaman Rosulullah SAW dan Salafus Sholeh sudah ada profesi-profesi tertentu yang mendapatkan nafkah dalam bentuk gaji atau honor. Namun tidak ada keterangan sama sekali tentang adanya ketentuan zakat gaji atau profesi. Bagaimana mungkin sekarang ini ada dibuat-buat zakat profesi.


Rosulullah SAW bersabda “Barang siapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak” (HR. Muslim).

Rosulullah SAW juga bersabda “Jauhilah bid’ah, karena bid’ah sesat dan kesesatan ada di neraka” (HR. Turmudzi).


Diantara mereka yang berada dalam pandangan seperti ini adalah Fuqaha kalangan Zahiri seperti Ibnu Hazm dan lainnya dan juga Jumhur Ulama, kecuali Mazhab Hanafiyah yang memberikan keluasaan dalam kriteria harta yang wajib dizakati.


Umumnya Ulama Hijaz seperti Syaikh Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, dan lainnya tidak menyetujui zakat profesi. Bahkan Syaikh Dr. Wahbah Az-Zuhaily pun menolak keberadaan zakat profesi sebab zakat itu tidak pernah dibahas oleh para ulama salaf sebelum ini.


 Umumnya Kitab Fiqih Klasik memang tidak mencantumkan adanya zakat profesi.


Pendapat & Dalil Pendukung Zakat Profesi


Pendapat ini dikemukakan oleh Syaikh Abdur Rahman Hasan, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul Wahab Khalaf dan Syaikh Yusuf Qaradhawi. Mereka berpendapat bahwa semua penghasilan melalui kegiatan profesi dokter, konsultan, seniman, akunting, notaries, dan sebagainya, apabila telah mencapai nishab, maka wajib dikenakan zakatnya. 


Para Peserta Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait pada 29 Rajab 1404 H / 30 April 1984 M juga sepakat tentang wajibnya zakat profesi bila mencapai nishab, meskipun mereka berbeda pendapat dalam cara mengeluarkannya.


 Pendapat ini dibangun berdasarkan :

Pertama : Ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum yang mewajibkan semua jenis harta untuk dikeluarkan zakatnya, seperti dalam QS. At-Taubah (9) :103, QS. Al-Baqarah (2) : 267, dan QS. Adz-Zaariyat (51) : 19. Firman Allah SWT “Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah/nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu” (QS. Al-Baqarah (2) : 267).


Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa segala hasil usaha yang baik-baik wajib dikeluarkan zakatnya. Dalam hal ini termasuk juga penghasilan (gaji) dari profesi sebagai dokter, konsultan, seniman, akunting, notaries, dan sebagainya. Imam Ar-Razi berpendapat bahwa apa yang dimaksud dengan “hasil usaha” tersebut meliputi semua harta dalam konsep menyeluruh, yang dihasilkan oleh kegiatan atau aktivitas manusia. Karena itu nash ini mencakup semua harta, baik yang terdapat di zaman Rasulullah SAW, baik yang sudah diketahui secara langsung, maupun yang dikiaskan kepadanya.


Muhammad bin Sirin dan Qathadaah sebagaimana dikutip dalam Tafsier Al-Jaami’ Li Ahkaam Al-Qur’an menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata-kata “Amwaal” (harta) pada QS. Adz-Zaariyaat (51) : 19, adalah zakat yang diwajibkan, artinya semua harta yang dimiliki dan semua penghasilan yang didapatkan, jika telah memenuhi persyaratan kewajiban zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya. (Tafsir Al-Jaami’ Li Ahkaam Al-Qur’an Juz I : hal. 310-311).


Sabda Rosulullah SAW “Menjadi suatu kewajiban bagi setiap orang muslim berzakat (bersedekah)”. Mereka bertanya, “Hai Nabi Allah, bagaimana yang tidak mempunyai harta ?. Rosulullah menjawab “Bekerjalah untuk mendapatkan sesuatu untuk dirinya, lalu bersedekah”. Mereka bertanya “kalau tidak mempunyai pekerjaan ?” Rosul bersabda “Tolonglah orang yang meminta pertolongan”. Mereka bertanya lagi “Bagaimana bila tak kuasa ?” Rosulullah menjawab ”kerjakanlah kebaikan dan tinggalkanlah kejahatan, hal itu merupakan sedekah”.


Kedua : Berbagai pendapat para Ulama terdahulu maupun sekarang, meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda. Sebagian dengan menggunakan istilah yang bersifat umum yaitu “al-Amwaal”, sementara sebagian lagi secara khusus memberikan istilah dengan istilah “al-maal al-mustafad” seperti terdapat dalam fiqh zakat dan al-fiqh alislamy wa Adillatuhu.


Sekelompok sahabat berpendapat bahwa kewajiban zakat kekayaan tersebut langsung, tanpa menunggu batas waktu setahun. Diantara mereka adalah Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah, Shadiq, Baqir, Nashir, Daud, dan diriwayatkan juga Umar bin Abdul Aziz, Hasan, Zuhri, serta Auza’i.


Pendapat-pendapat dan sanggahan-sanggahan terhadap pendapat-pendapat itu telah ditulis dalam kitab-kitab, misalnya al-Muhalla oleh Ibnu Hazm, jilid 4 : 83 dan seterusnya al-Mughni oleh Ibnu Qudamah jilid 2 : 6, Nail-Authar jilid 4 : 148, Rudz an-Nadzir jilid 2 : 41, dan Subul as-Salam jilid 2 : 129.


Ketiga : Dari sudut keadilan yang merupakan cirri utama ajaran Islam penetapan kewajiban zakat pada setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas, dibandingkan dengan hanya menetapkan kewajiban zakat pada komoditi-komoditi tertentu saja yang konvensional. Petani yang saat ini kondisinya secara umum kurang beruntung, tetap harus berzakat, apabila hasil pertaniannya telah mencapai nishab. Karena itu sangat adil pula, apabila zakat inipun bersifat wajib pada penghasilan yang didapatkan para dokter, konsultan, seniman, akunting, notaries, dan profesi lainnya.


Keempat : Sejalan dngan perkembangan kehidupan ataumanusia, khususnya dalam bidang ekonomi, kegiatan penghasilan melalui keahlian dan profesi ini akan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan akan menjadi kegiatan ekonomi yang utama, seperti terjadi di Negara-negara industry sekarang ini. Penetapan kewajiban zakat kepadanya, menunjukkan betapa hukum Islam sangat aspiratif dan responsive terhadap perkembangan zaman. Afif Abdul Fatah Thabari menyatakan bahwa aturan dalam Islam itu bukan saja sekedar berdasarkan pada keadilan bagi seluruh umat manusia, akan tetapi sejalan dengan kemaslahatan dan kebutuhan hidup manusia, sepanjang zaman dan keadaan, walaupun zaman itu berbeda dan berkembang dari waktu ke waktu (Ruuh al-Dien al-Islamy, hal. 300)


Nishab dan Cara Mengeluarkan Zakat Profesi


Terdapat beberapa perbedaan pendapat para Ulama dalam menentukan nisab dan cara mengeluarkan zakat profesi.


Pertama : Madzhab Empat berpendapat bahwa tidak ada zakat pada harta kecuali sudah mencapai nishab dan sudah memiliki tenggang waktu satu tahun. Adapun nishabnya adalah senilai 85 gam emas dengan kadar zakat sebesar 2,5% (Al-Fiqh Islamy Wa Adillatuhu, juz II : 866, 1989)


Kedua : Pendapat yang di nukil dari Syeikh Muhammad Ghazali yang menganalogikan zakat profesi dengan zakat hasil pertanian, baik dalam nishab maupun persentase zakat yang wajib dikeluarkan, yaitu 10%.


Ketiga : Pendapat yang menganalogikan zakat profesi ini pada dua hal, yaitu dalam hal nishab pada zakat pertanian, sehingga dikeluarkan pada saat diterimanya, dan pada zakat uang dalam hal kadar zakatnya yaitu sebesar 2,5% (Al-Fiqh Islamy Wa Adillatuhu, juz II : hal. 866). Pendapat yang menganalogikan zakat profesi dengan zakat pertanian, antara lain diambil dari pendapat sebagian sahabat seperti Ibnu Abbas, Ibn Mas’ud, dan Mu’awwiyah. Dan juga dari sebagian seperti Imam Zuhri, Hasan Bashri, Makhul, Umar bin Abdul Aziz, Baqir, Shadiq, Nashir, dan Daud Dzahiri (Al-Fiqh Islamy Wa Adillatuhu, juz II : hal. 866).


Keempat : Pendapat Madzhab Imamiyyah yang menetapkan zakat profesi sebesar 20% dari hasil pendapatan bersih. Hal ini berdasarkan pemahaman mereka terhadap firman Allah SWT dalam QS. Al-Anfaal (8) : 41. Menurut mereka kata-kata ghanintum dalam ayat tersebut bermakna seluruh penghasilan, termasuk gaji, honorarium, dan pendapatan lainnya.

Bagi yang mempersamakannya menetapkan prosentasi zakatnya sama dengan zakat perdagangan yakni 2,5% dari hasil yang diterima setelah dikeluarkannya segala biaya kebutuhan hidup yang wajar dan selama sisa tersebut dalam masa setahun, telah mencapai batas minimal yakni senilai 85 gram emas murni. 


Sedangkan yang menganalogikan hasil-hasil dari profesitersebut dengan zakat pertanian. Dalam arti begitu ia menerima penghasilan senilai 653 kg hasil pertanian yang harganya paling murah, maka seketika itu juga ia harus menyisihkan lima atau sepuluh persen (tergantung kadar keletihan yang bersangkutan) dan tidak perlu menunggu batas waktu setahun. Hemat saya pendapat pertama yang mempersamakan zakat profesi dengan zakat perdagangan lebih bijaksana, karena hasil yang diterima biasanya berupa uang sehingga lebih mirip dengan perdagangan dan atau nilai emas dan perak. 


Wa Allah Alam. [ Hakam elChudrie ].


Copyright © www.piss-ktb.com 2019


____

Dari Aplikasi: Tanya Jawab Islam

Download: 

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.zam.pisslite

Macam-macam إذا

 🔰 Macam-macam إذا 🔰


إذا itu terbagi kepada dua kelompok :

🔅 إذا Zharfiyyah

🔅 إذا Fujaa’iyah


➖➖➖🔸🔅🔰🔅🔸➖➖➖

1⃣ إذا Zharfiyyah


إذا Zharfiyyah adalah isim yang mengandung makna zharaf zaman lil Mustaqbal (untuk menunjukkan waktu yang akan datang).


إذا Zharfiyyah terbagi dua macam, yaitu :


▶ إذا Zharfiyyah Syarthiyyah ialah إذا yang mengandung makna waktu yang akan datang dan kebanyakan diikuti oleh fi’il Madhi setelahnya,bisa juga dengan fi’il Mudhari. إذا Zharfiyyah Syarthiyyah memerlukan dua jumlah untuk melengkapinya, jumlah pertama dinamakan Jumlah Syarthiyyah dan jumlah kedua dinamakan Jumlah Jawab Syarath yang biasanya diawali oleh huruf  “Fa”.

Contoh : إذأ قَرَأْتَ القرآن فـَاسْتَعْذْ بِاللهِ


إذا قُمْتُمْ إلى الصلاةِ فـاغْسِلُوْا


Potongan ke-2 ayat di atas diawali oleh إذا dan diikuti masing-masing oleh fi’il Madhi, pada ayat ke-1 fi’il Madhinya “قَرَأْتَ” dan ayat ke-2 fi’il Madhinya “قمْتمْ”, karena diawali oleh إذا maka fi’il Madhi tersebut mengandung makna waktu yang akan datang. Dan arti dari kedua potongan ayat tersebut adalah :


إذأ قَرَأْتَ القرآن فـَاسْتَعْذْ بِاللهِ  Apabila Kamu akan membaca Al-Qur’an maka beristi’adzahlah kepada Allah


إذا قُمْتُمْ إلى الصلاةِ فـاغْسِلُوْا  Apabila kamu akan mendirikan shalat maka cucilah…


▶ إذا Zharfiyyah Ghoir Syarthiyyah ialah إذا yang mengandung makna waktu dan tidak membutuhkan jumlah syarath dan jumlah Jawab Syarath, melainkan cukup dengan satu jumlah saja.

contoh :  و الليلِ إذَا سَجَى artinya Demi Malam ketika akan gelap


2⃣ إذا Fujaa’iyyah


إذا Fujaa’iyyah ialah sebuah huruf  yang tidak mengandung makna waktu, dan dinamakan Fujaa’iyyah karena ia mengandung makna tiba-tiba , yang sering diartikan dengan terjemahan ” ternyata “, dan sesudahnya harus berupa jumlah  Ismiyyah, karena bila sesudahnya jumlah Fi’liyyah maka ia  bukan إذا Fujaa’iyyah tapi jadi إذا Zharfiyyah


contoh :  جِئْتُ إِلَى المَدْرَسَة فـإذَا النلاميذ يلعبون في الملعب artinya Saya datang ke sekolah lalu ternyata murid-murid sedang bermain di lapangan



و الله أعلم

Disadur secara bebas dari: https://sururudin.wordpress.com


➖➖➖🔸🔅🔰🔅🔸➖➖➖

Friday, December 24, 2021

Faidah : Mashdar bisa pada posisi Hal

haal biasanya  itu bentuk isim fa’il atau maf’ul 


contoh lain haal berupa mashdar

(ٱلَّذِینَ یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِیَـٰمࣰا وَقُعُودࣰا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَیَتَفَكَّرُونَ فِی خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلࣰا سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ)

[Surat Ali 'Imran 191]


Boleh jamid tapi Takwil musytaq


perbedaan haal dan tamyiz


sumber : ustadz Rodi Satriawan, ustadz Fatih, ustadz Heri, ustadz Mochamad Nurahyani (Grup diskusi mawaddah)

Wednesday, September 29, 2021

Irob Wujuban dan jawazan

 


2️⃣.  🔰 Dhomir Mustatir ( الضمير المستتر )



🔑  Mustatir Wujuban ( مستتر وجوبا )

Ialah dhomir yang tidak bisa digantikan kedudukannya oleh isim zhaahir.


➡️ Dhomir Mustatir Wujuban terjadi pada:


⚠️ Fi’il ‘Amr dhamir  َأَنْت. contoh :


🍎 أُكْتُبْ : فعل أمر مبني على السكون و الفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره أنتَ



⚠️  Fi’il Mudhari’ dhamir  أَنْتَ & mutakallim ( ُأَنَا, نَخْن )


Contoh :


🍎 تَكْتُبُ  : فعل مضارع مرفوع بالضمة و الفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره أنتَ



🍎 أَكْتُبُ : فعل مضارع مرفوع بالضمة و الفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره أنا



🍎 نَكْتُبُ : فعل مضارع مرفوع بالضمة و الفاعل ضمير مستتر وجوبا تقديره نخن



🔑🔑. Mustatir Jawazan ( مستتر جوازا )

ialah dhomir yang bisa digantikan kedudukanya oleh isim zhaahir.



1. Fi’il Madhi & Fi’il Mudhari’ dhomir هي dan  هو , apabila  fi'il tersebut sebagai khabar Ghairu mufrad (jumlah ismiyah)


contoh:

✒️ زيد قام


🍎 قَامَ : فعل ماض مبني على الفتح و الفاعل ضمير مستتر فيه جوازا تقديره هو



✒️ زيد يقوم


🍎 يَقُوْمُ : فعل مضارع مرفوع بالضمة و الفاعل ضمير مستترفيه جوازا تقديره هو



➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Saturday, September 18, 2021

Cara membedakan susunan kata mubdal minhu berupa mudhof-mudhof ilaih ya mutakallim dengan "mudhof mutsanna-mudhof ilaih" (dlm keadaan nashob/majrur)

 Contoh jumlah pada kasus ini seperti :

ذهبت إلى المسجد مع صديقي زيد

maka susunan dari صديقي زيد merupakan susunan yang terdiri dari mudhof yang mudhof ilaihnya yaa mutakallim dan Zaid adalah badal kul min kul / badal muthabiq. Jika diterjemahkan "saya pergi ke masjid bersama teman saya zaid. "

berbeda halnya jika penulisannya seperti ini :

ذهبت إلى المسجد مع صديقيِ زيد

maka jumlah di atas terjemahannya menjadi "Saya pergi ke masjid bersama dua temannya Zaid (Zaid di sini kedudukannya sebagai mudhof ilaih)

Thursday, September 16, 2021

irob

 🧱 Kunci Jawaban KOIN Pekan 20 P1 BINUM 10 🧱


I'RABLAH!

 


١. إِنَّ الدِّيْنَ وَالْإِيْمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

 الإعراب : 

📌 إنَّ = حرف توكيد ونصب مبني على الفتح 

📌 الدِّيْنَ = اسم إنَّ منصوب وعلامة نصبه فتحة ظاهرة في آخره 

📌 الواو = حرف عطف مبني على الفتح 

📌 الْإِيْمَانَ = معطوف منصوب وعلامة نصبه فتحة ظاهرة في آخره 

📌 قوْلٌ = خبر إنّ مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره 

📌 الواو = حرف عطف مبني على الفتح 

📌 عَمَلٌ = معطوف مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره  


٢. لَا مُدَرِّسَ فيْ غُرْفَةِ الْمُدِيْرِ

الإعراب : 

📌 لا = لا النافية للجنس مبني على السكون 

📌 مدَرِّسَ = اسم مبني على الفتح في محل نصب اسم لا 

📌 فيْ = حرف جر مبني على السكون 

📌 غرْفَةِ = اسم مجرور بــ (فِيْ) وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره 

📌 الْمُدِيْرِ = مضاف إليه مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره 


sumber : binum 10

🚧🚧🚧🚧🚧


🧱 Kunci Jawaban KOIN Pekan 20 P2 🧱



Berikanlah HARAKAT lengkap kemudian TERJEMAHKAN kalimat-kalimat berikut ini. Lalu I'RABLAH!



١. إِذَا رَجَعَ المُدَرِّسُوْنَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ غُرْفَتِهِمْ

   

Apabila para guru telah kembali, maka pintu-pintu ruangan mereka ditutup


🎁 إذا : ظرفية شرطية غير جازمة حرف مبني على السكون في محل نصب على الظرفية زمانية متعلق بالجواب

🔵 رجع : فعل ماض مبني على الفتح. وهو فعل الشرط

🔵 المدرسون : فاعل مرفوع وعلامة رفعه الواو نيابة عن الضمة لأنه جمع المذكر السالم

🎁 رجع المدرسون : جملة فعلية في محل جر مضاف إليه

🔵 أغلقت : فعل ماض مبني للمجهول مبني على الفتح 

والتاء للتأنيث

🔵 أبواب : نائب الفاعل مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره وهو مضاف 

🔵 غرفة : مضاف إليه مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. وهو مضاف

💠 هم : ضمير متصل مبني على السكون في محل جر مضاف إليه

🎁 أغلقت أبواب غرفتهم : جملة فعلية لا محل لها من الإعراب لأنها جملة جواب الشرط جازم غير مقترن بالفاء



🧱🧱🧱


٢. مِفْتَاحُ سِيَاجِ دُكَّانِ أَخِيْ يَحْيَى مَحْذُوْفٌ


🔵 kunci pagar toko saudaranya yahya hilang, atau

🔵 kunci pagar toko saudaraku (yaitu) yahya, hilang


🔵 مفتاح : مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره. وهو مضاف

🔵 سياج : مضاف إليه مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. وهو مضاف

🔵 دكان : مضاف إليه مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. وهو مضاف

🔵 أخي : مضاف إليه مجرور وعلامة جره الياء نيابة عن الكسرة لأنه من الأسماء الخمسة. وهو مضاف

🔵 يحيى : مضاف إليه مجرور وعلامة جره فتحة مقدرة منع من ظهوره التعذر. وهو مضاف

atau

🔴 أخي : مضاف إليه مجرور وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره. وهو مضاف. والياء ضمير متصل مبني على السكون في محل جر مضاف إليه

🔴 يحيى : بدل من أخي مجرور وعلامة جره فتحة مقدرة منع من ظهوره التعذر. وهو مضاف

🔵 مَحْذُوْفٌ : خبر المبتدأ مرفوع وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره


🧱 Kunci Jawaban KOIN Pekan 21 P1 🧱



Terjemahkan dan I'RABLAH hadits berikut ini!

 

أقْتُلُوْا الأَسْوَدَيْنِ فِيْ الصَّلَاةِ الحَيَّةَ وَالعَقْرَبَ 

Bunuhlah kedua binatang hitam (sekalipun kalian sedang shalat, yaitu ular dan kalajengking. (Shahih, riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmizi) 


⛱ أقْتُلُوْا = فعل أمر مبني على حذف النون والواو ضمير متصل مبني على السكون في محل رفع فاعل 

⛱ الأَسْوَدَيْنِ = مفعول به منصوب وعلامة نصبه الياء نيابة عن الفتحة لأنه مثنى

⛱ فيْ = حرف جر مبني على السكون

⛱ الصَّلَاةِ =  اسم مجرور بــ(فِيْ) وعلامة جره كسرة ظاهرة في آخره 

⛱ الحَيَّةَ = بدل منصوب وعلامة نصبه فتحة ظاهرة في آخره 

⛱ والعَقْرَبَ = معطوف منصوب وعلامة رفعه ضمة ظاهرة في آخره


Wednesday, September 8, 2021

PEMBAGIAN HURUF JAR (Asli, Tambahan, dan Syabbih biz zaid)

1️⃣


 📚📚📚 TAMARI 📚📚📚

📝 TAMBAHAN MATERI 📝


🎁 PEMBAGIAN HURUF JAR


🌳 Huruf Jar dibagi menjadi 3 kelompok :


1️⃣ Huruf Jar Asli

  ➡️ Semua hurur jar kecuali رُبَّ

  ➡️ Memiliki arti khusus

  ➡️ Keberadaannya dalam kalimat sangat penting

  ➡️ Menjarkan isim secara lafadz dan kedudukan


🔰 Contoh :

✨ ذَهَبْتُ إِلَى الجَبَلِ

          ⏩ Aku telah pergi ke gunung

✨  الكِتَابُ عَلَى المَكْتَبِ

          ⏩ Buku itu diatas meja



2️⃣ Huruf Jar Zaid (Tambahan)

  ➡️ Hurufnya hanya مِنْ ، الباء ، الكاف

  ➡️ Tidak memiliki arti khusus, hanya sebagai penguat

  ➡️ Ada atau tidaknya ia dalam kalimat sama saja

  ➡️ Menjarkan isim hanya secara lafadz tapi tidak dengan kedudukannya


🔰 Contoh :

✨ مَا كَلَّمَهُ مِنْ أَحَدٍ

          ⏩ Tidak seorangpun berbicara kepadanya

📝 Lafadz أَحَدٍ walau ia berharakat kasrah, namun itu bukan kasrah zhahirah, itu adalah dhommah muqoddarah, karena kedudukannya adalah sebagai fa'il



3️⃣ Huruf Jar Syabbih biz zaid

  ➡️ Hurufnya hanya رُبَّ

  ➡️ Memiliki arti khusus

  ➡️ Keberadaannya dalam kalimat sangat penting

  ➡️ Menjarkan isim hanya secara lafadz tapi tidak dengan kedudukannya


🔰 Contoh :

✨ رُبَّ صَدِيْقٍ أَنْفَعُ مِنْ شَقِيْقٍ

          ⏩ Terkadang teman lebih memberi manfaat dari saudara kandung

📝 Lafadz صَدِيْقٍ walau ia berharakat kasrah, namun itu bukan kasrah zhahirah, itu adalah dhommah muqoddarah, karena kedudukannya adalah sebagai mubtada


🔆🔅🔆🔅🔆🔅🔆🔅🔆🔅🔆

sumber : grup Musyrif BINAR 6 (ust. Ikhsan Purnama)

2️⃣

Cara mudah membedakan huruf jar asli, zaid/tambahan dan syabiih bizaid
1. Huruf jar asli
Huruf jar asli memiliki makna, tidak boleh dibuang dari suatu kalimat dan ia selalu berkaitan dengan kata lain (butuh muta'alliq)
Contoh:
خرجت من البيت إلى المسجد
Huruf MIN dan ILA pada contoh diatas merupakan huruf jer asli karena ia memiliki makna. MIN memiliki makna ibtida-ul ghayah (memulai suatu tujuan) dan ILA memiliki makna intiha-ul ghayah (akhir dari suatu tujuan). Jer majrur tersebut berkaitan (ta'alluq) dengan fiil kharajtu.
2. Huruf jar tambahan
Huruf jar ini tidak memiliki makna dan tidak mempengaruhi makna kalimat ketika di buang dari suatu kalimat.
Contoh:
بحسبك درهمٌ
Huruf BA' pada contoh diatas merupakan huruf jar tambahan karena ia tidak memiliki makna. Ketika huruf BA' tersebut dihilangkan dalam kalimat tersebut, tidakakan mempengaruhi maknanya. Hanya pengaruh secara i'rab saja.
بحسبك ↞الباء حرف جر زائد مبني على الكسر.
و (حسب) ↞مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة، منع من ظهورها اشتغال المحل بحركة حرف الجر الزائد. و (الكاف) ضمير متصل مبني على الفتح في محل جر مضاف إليه.
درهمٌ↞ خبر المبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة
3. Huruf jar yang menyerupai tambahan
Bedanya dengan huruf jar tambahan adalah huruf jar zaid boleh dibuang dan huruf jar syabiih bi zaid tidak boleh dibuang, karena akan mempengaruhi makna.
Sedang bedanya dengan huruf jar asli, huruf jar asli selalu membutuhkan mutaalliq dan huruf jar syabiih bi zaid tidak membutuhkan muta'alliq.
Contoh:
رُبَّ مسلم كاذبٌ
Lafadz رُبَّ pada kalimat diatas merupakan huruf jar syabiih bi zaid.
wallohu a'lam.
#Mohon berkenan asatidz untuk mengoreksi apabila ada kekeliruan



sumber : Lughatunaa Al-Lughatul 'Arabiyyah (Facebook)

Sunday, August 15, 2021

Pola kalimat do/does/did + verb base untuk penekanan

 



Penggunaan Do dan Does dalam kalimat positif atau berita adalah untuk memberikan penekanan

Contoh kalimat :
I really do have to go
he does hate her
I really do work hard
he did love that food

sumber gambar : https://www.youtube.com/watch?v=Ruy5jsEQrVA

Saturday, August 14, 2021

📚 CARA MERUBAH MASHDAR MUAWWAL KE MASHDAR SHORIH

 📚 CARA MERUBAH MASHDAR MUAWWAL KE MASHDAR SHORIH

_________


1⃣ Apabila setelah huruf mashdari adalah jumlah fi’liyah, maka langsung diberikan mashdar dari fi’ilnya dan diidhafahkan kepada dhamir fi’il tersebut.


2⃣ Apabila huruf mashdarinya adalah أَنَّ, maka :


♻ Apabila khabar berupa jumlah fi’liyyah, fi’ilnya fi’il mutasharrif atau isim musytaq mutasharrif (isim fa’il, isim maf’ul, syifah musyabbahah), maka kita datangkan mashdar dari khabar أَنَّ tersebut kemudian diidhafahkan kepada isim anna.


🔰 Contoh:


▫ سَرَّنِي أَنَّكَ مُجْتَهِدٌ = سَرَّنِي اِجْتِهَادُكَ


♻ Apabila khabar berupa isim jamid atau fi’il jamid, maka ditakwilkan dengan lafadz ( كَوْن ) yang diidhafahkan kepada isim anna.


🔰 Contoh:


▫ بَلَغَنِي أَنَّ زَيدًا أَخُوكَ  =  بَلَغَنِي كَونُ زَيدٍ أَخَاكَ


♻ Apabila khabar berupa jar wa majrur atau zharaf, maka ditakwil dengan lafadz (اِستِقْرَار ) atau yang semakna, kemudian diidhafahkan kepada isim anna.


🔰 Contoh:


بَلَغَنِي أَنَّ زَيْدًا فِي المَسْجِدِ = بَلَغَنِي اسْتِقْرَارُ زَيدٍ فِي المَسْجِدِ


♻ Apabila khabar anna dinafikan, maka kita datangkan lafadz (عَدَم) kemudian diidhafahkan kepada mashdar.


🔰 Contoh:


▫ وَثَقْتُ أَنَّكَ لَا تُهْمِلُ = وَثَقْتُ عَدَمَ إِهْمَالِكَ

faidah bahasa arab 10 agustus 2021 (PENULISAN ابن)

 📝 KAIDAH


🔘 PENULISAN ابن


➖ Jika ابن terletak diantara dua nama (isim alam) dalam frasa yang sama maka hamzah washalnya dibuang.


contoh :

📚 جاء عمر بن الخطاب

📚 رأيت عبد الله بن محمد


➖ Jika ابن terletak di akhir frasa setelah nama yang pertama maka hamzah washalnya dituliskan.


contoh :

📚 خالد ابن من؟ خالد بن الوليد

📚 عمر ابن من؟ عمر بن الخطاب


➖ Jika ابن terletak diantara dua nama namun dipisahkan oleh dhamir, maka hamzah washalnya dituliskan.


contoh :

📚 محمد هو ابن عبد الله

📚 عمر هو ابن الخطاب


➖ Jika ابن terletak setelah huruf nidaa’ (seruan), mak hamzah washalnya dibolehkan untuk dibuang atau tidak


contoh :

📚 يا ابن الخطاب

📚 يا بن الخطاب


➖ Hamzah washal lafadz ابنة dibuang apabila ta’ marbutahnya dibuang. Kewujudan ta’ dan hamzah washal ini berkaitan. Kalau salah satu dibuang maka yang lain pun dibuang.


Contoh:

📚 أسماء ابنة أبي بكر

Sebaliknya,

📚 أسماء بنت أبي بكر



Maraji’:


– Al-Qawa’id Al-Imla’iyyah.


sumber grup diskusi binum 10

faidah b.arab 14/8/2021

 


as-Sualu maudun fi al jawab

Wednesday, July 7, 2021

Saturday, April 3, 2021

Kekhususan Kaana

yakni apabila kaana didahului in syarthiyyah (إن) dan law syarthiyyah (لو) maka kaana dibuang

Monday, March 29, 2021

Berbicara Tentang Saudara Kaana (Senantiasa)


ما زال، ما برِح، ما فتٓئ، ما انفَكَّ

Masih bicara tentang rumpun saudara kaana, kali ini kita mengunjungi Maa Zaala dkk. Kata kata ini memiliki makna berlangsung nya sebuah pekerjaan hingga saat di kabarkan, atau berlangsung permanen. 


Contoh: 

ما زال زيدٌ مُبْتَسِما

"Zaid masih tersenyum" 

ما زال الله محسنا 

"Allah senantiasa memberi kebaikan" 


Kata kata ini terdiri dari dua suku kata: ما+زال

Huruf "Maa" disini bermakna negatif, dan fungsi nya adalah menjadikan kata kata ini menjadi positif karena mereka juga bermakna negatif. 


Negatif + negatif = positif.


1. Zaala, mempunyai tiga bentuk Mudhori': 

يزول/ يزيل/ يزال

Dan makna nya berdekatan yaitu pergi, hilang, memisahkan, dan meninggalkan. Kemudian jika kita tambahkan "maa" maka maknanya berubah menjadi positif "tidak pergi, tidak hilang" dengan kata lain "masih berlangsung" atau "senantiasa ada". Dan untuk bentuk saudara kaana digunakan adalah زال يزال.


2. Adapun برِح dia memiliki makna yang masih dekat dengan زال, yakni meninggalkan. Namun dia lebih sering digunakan untuk tempat (meninggalkan tempat).

Seperti dalam firman Allah ta'ala: 

فلن أبرحَ الأرضَ

"Maka aku tidak akan meninggalkan tempat ini" QS Yusuf: 80. 

Juga kata baarihah (بارحة) untuk malam yang telah lalu. 


3. Sedangkan فتئ memiliki makna نسي lupa atau meninggalkan. Seperti dalam firman Allah ta'ala: 

تالله تفتأ تذكر يوسف 

"Demi Allah engkau masih belum melupakan dan mengingat Yusuf" QS Yusuf: 85. Dan kata inilah yang paling tepat digukanan disini, bukan ما زال atau yang lain. 


4. Yang terakhir adalah انفك yang asalnya dari kata فكَّ makna nya adalah melepaskan ikatan, kemudian mengikuti انفعل menjadi انفك yang bermakna terlepas. 


Semua kata negatif ini jika di awali dengan huruf negatif seperti ما، لا، لم،لن، dll, kebanyakan dia menjadi fi'il naqish bermakna senantiasa atau masih. 


Dan jika tidak di awali dengan huruf² tadi maka dia tetap pada asalnya adalah fi'il yang Taamm dan maknanya negatif. 


Wallahu a'lam.


sumber : WAG SAIN

Saturday, January 23, 2021

Perbedaan Singkat Nun Niswah dan nun Wiqoyah

nun niswah = nun penanda muannats, letaknya di fiil yang bersambung dengan dhomir hunna dan antunna

nun wiqoyah = nun yang menjaga agar fiil tidak berharokat kasroh


Sumber : WAG Diskusi Binar 5-1

Saturday, January 16, 2021

Khilafiyah dalam Bahasa Arab

1.  Asal Suatu kata dalam bahasa arab apakah dari fi'il  atau mashdar ?

'Ulama Kuffah dan 'Ulama Bashroh berbeda pendapat tentang hal ini. 'Ulama nahwu bermadzhab Basrah berpendapat bahwa semua kata kerja/fi'il dibentuk dari mashdar, sedangkan 'Ulama kufah berpendapat sebaliknya yaitu mashdar dibentuk dari kata kerja/fi'il


2. Khafadh atau Jar

Khafadh  merupakan istilah dari 'Ulama Kufah 


3. Fi'il Amr Mabny atau Jazm dalam hukum irab (Fi'il Amr merupakan Mu'rob (yakni jazm) merupakan pendapat 'Ulama Kufah sedangkan 'Ulama Basrah berpendapat fi'il amr adalah mabni

Sumber : transkrip BINAR 5 (sebagian)



Saturday, January 9, 2021

I'rob Kata عَمْرٌى (Mu'rab secara tidak jelas / تَقْدِيْرًا

 Untuk kata yang diakhiri huruf 'illat, ada penambahan keterangan ketika i'rabnya. Dari 3 huruf 'illat (ِAlif ى...) , (Waw و...) , (Ya ي...) terbagi 2 tamabahan keterangan :

1. Untuk yang diakhiri huruf alif

مقدرة على الألف منع من ظهورها التعذر

contoh : اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

 هُدًى : اسم مجرور ب(على) وعلامة جره كسرة مقدرة على الألف منع من ظهورها التعذر

2. Untuk yang diakhiri huruf waw dan huruf ya

 مقدرة على الواو / الياء منع منظهورها الثقل

  contohnya :  عَمْرٌى (dibaca Amrun)  di dalam jumlah/kalam berikut :

    يَقْرَأُ عَمْرٌو كُتُبَ السِّيْرَةِ كُلَّهَا

     عَمْرو : فاعل مرفوع وعلامة رفعه ضمة مقدرة على الواو منع من ظهورها الثقل


Jika ada kesalahan mohon koreksinya

 والله أعلم بالصواب 

sumber :  ilmu Nahwu untuk pemula (Abu Razin & Ummu Razin) dengan sedikit tambahan

Sunday, December 27, 2020

penggunaan still pada modal

 Jika "still" terdapat pada kalimat yang mengguanakan modal (can/could/may/must/should) ada perbedaan ketentuan antara kalimat positif dan negatif:

The old man can still walk 10 km without exhaustion.

VS

The old man still can not stand. 

Perbedaan Penggunaan during vs while

 Setelah "during" noun/noun phrase 

VS

sedangkan setelah "while" adalah Subject + verb

Basyar, Bani Adam, An-Nas, Insan dalam Al-Qur'an

Di dalam Al-Qur'an, manusia disebutkan dalam empat kata yang berbeda yakni Basyar, Bani Adam, An-Nas,dan Insan. Secara khusus keempat ka...